Politik

28 Dewan Pakar PKS Mundur dan Kembalikan Atribut Partai

Redaksi
×

28 Dewan Pakar PKS Mundur dan Kembalikan Atribut Partai

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Sebanyak 28 anggota Dewan Pakar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengundurkan diri dari keanggotaan partai sebagai bentuk kekecewaan mereka. Tidak hanya mundur, mereka juga menyerahkan kembali atribut partai seperti jas berlogo PKS, pin, dan kartu tanda anggota (KTA).

“Kita harus mengembalikan atribut kepada Partai Keadilan Sejahtera dan kartu tanda anggota,” ujar anggota Dewan Pakar PKS, Mayjen (Purn) Soenarko, saat menyampaikan pernyataan sikap di Jakarta, Senin (27/8).

Dalam aksi simbolis tersebut, Soenarko dan rekan-rekannya menyerahkan jas PKS kepada dokter Wibowo, yang mewakili pihak partai. Setelah penyerahan, Soenarko dan Wibowo terlihat saling berpelukan sebagai tanda perpisahan.

Sebelumnya, keputusan PKS untuk bergabung dengan Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2024 menimbulkan ketidakpuasan di internal partai, terutama setelah PKS meninggalkan dukungan terhadap Anies Rasyid Baswedan.

Akibat keputusan ini, 28 anggota Dewan Pakar PKS memutuskan untuk mundur dari jabatannya. Pernyataan sikap tersebut dibacakan oleh Soenarko, yang mengungkapkan bahwa mereka bergabung dengan PKS karena keyakinan bahwa partai ini konsisten memperjuangkan Indonesia yang lebih baik.

“Pada hari ini, Senin 26 Agustus 2024, kami bersama 28 anggota Dewan Pakar PKS ramai-ramai mengundurkan diri. Kami sebelumnya percaya PKS adalah partai yang istiqomah dalam memperjuangkan kepentingan rakyat,” ujar Soenarko.

Dewan Pakar ini merupakan bagian dari 45 anggota yang dilantik pada 17 Oktober 2023 di kantor DPP PKS, Jakarta Selatan. Pelantikan saat itu dilakukan oleh Presiden PKS, Ahmad Syaikhu.

Soenarko menjelaskan bahwa keputusannya mundur didorong oleh pandangannya bahwa perjuangan PKS kini lebih berorientasi pada kekuasaan daripada memperjuangkan aspirasi rakyat. Ia merasa PKS telah melenceng dengan mendukung kekuasaan yang melanggengkan dinasti politik Presiden Joko Widodo.

“PKS yang dulu bersama rakyat kini malah bergabung dengan penguasa. Saya kecewa dengan perubahan kebijakan elit PKS yang lebih mengutamakan kepentingan politik sempit,” ucap mantan Danjen Kopassus itu.

Soenarko juga menyoroti sikap PKS yang mendukung Bobby Nasution di Sumatera Utara, yang dianggapnya sebagai bentuk dukungan terhadap politik dinasti Jokowi. Selain itu, ia menilai PKS tidak lagi mendengarkan mayoritas aspirasi rakyat dalam pilkada yang akan datang.

Dengan tiga alasan tersebut, Soenarko dan 28 Dewan Pakar PKS memutuskan untuk keluar dari partai. “Semoga Allah SWT meridhoi niat baik kita demi kepentingan bangsa dan negara yang kita cintai ini,” tutupnya. (DR)