Ramai-ramai Membunuh Kebenaran, agar Bersama-sama Hidup Dalam Kebohongan
FaktaID.net – Pemerintahan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sudah berlangsung 1,6 tahun lebih. Apa yang dipikirkan, diucapkan, dituliskan dan dilakukan oleh pemerintah selama ini berjalan dalam koridor yang jelas yaitu agenda transformasi bangsa. Dinilai secara paripurna oleh berbagai kalangan termasuk mayoritas masyarakat kelas bawah yang jumlahnya ratusan juta.
Satu setengah tahun, seiring waktu berjalan, saya ikuti apa yang dipertontonkan para pengamat dan buzer serta oposisi Ibarat panggung sandiwara, memetik dawai tua tak berguna, hanya menguasai nada minor sehingga tampak membosankan.
Kelompok Oposisi tampak ofensif dengan kritikan-kritikan yang tidak bermutu, tidak menohok, dan cenderung ad hominem dan nihil intelektual; hanya menghasilkan “onani intelektual”.
Karena itu memasuki tahun yang ke dua pemerintahan, tulisan ini difokuskan untuk membuka tabiat para para pengamat, oposisi, polster dan buzer para “pembunuh kebenaran”.
Pengamat, polster, oposisi, buzer dan pembenci Pemerintah yang mengklaim diri orang-orang lingkar dalam pemegang otoritas intelektual yang sebenarnya patut diduga memiliki disposisi politik dengan kelompok yang kalah pemilu, Kerabat, atau tidak lain dan tidak bukan keyakinan saya mereka adalah komprador dengan para maling dan perampok uang negara. Korelasinya berbasis pada fakta dan informasi yang telah disuguhkan oleh media sebagai jendela bangsa selama ini.
Tidak terasa kurun waktu 1,6 tahun itu pula pengamat dan pembunuh kebenaran serta simpatisan berkoar-koar memaki-maki Pemerintah saban hari tanpa henti, tanpa lelah dan tanpa bosan seiring bersama berlalunya waktu.
Saya mencatat kredo para pembunuh kebenaran “pemerintahan korupsi, kolusi dan nepotisme, Pemerintah tidak memberantas mafia, kartel, Pemerintah tidak menepati janji, Pemerintah tidak menegakkan HAM, tidak komitmen pada rakyat, tidak konsisten, tidak demokratis, tidak bermoral, tidak menghormati kebebasan ekspresi”. Semua kata-kata memang enak didengar di kuping para pembenci, karena memang mereka suka kredo-kredo kering nihil literasi seperti ini.
Tentu saja dihormati, namun perlu dipertanyakan apakah para pembunuh kebenaran ini memiliki mata hati ketika Presiden Prabowo memberantas para oligarki (mafia ekonomi dan kartel dagang) di tengah-tengah pemilihan umum berbiaya tinggi? pemerintah sedang gencar-gencarnya melawan kaum oligarki ekonomi maupun para oligarki politik, oligarki hukum yang telah lama hidup di bisantium sambil menginjak kaki kaum bumi putra yang miskin dan tertinggal.




