Natalius Pigai : Pengamat dan Fenomena Post Truth

Redaksi
Natalius Pigai : Pengamat dan Fenomena Post Truth
Dok. Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai.

Prabowo telah memastikan pemerintahan ini bersih anti Kolusi, Korupsi dan Nepotisme. Negara telah mengembalikan trilyunan uang rakyat yang dirampok para maling, tantiem para komisaris BUMN ditiadakan, BUMN tidak lagi dijadikan alat bancakan ratusan orang penganggur jalanan dan job seeker yang ditampung sebagai pemimpin perusahan berplat merah sebagaimana tradisi selama ini. Sekarang Danantara merekrut petinggi BUMN dengan kualifikasi dan kompetensi tinggi.

Presiden sedang tunaikan semua janji-janji yang telah dilukiskan dalam buku transformasi bangsa yang diucapkan kepada rakyat Indonesia pada saat kampanye pemilihan presiden. Berbagai kebijakan populis untuk memutus rantai kemiskinan dengan menggelontorkan anggaran negara tidak kurang dari 1,300 trilyun dari 3.600 Trilyun APBN.

Bagi Prabowo yang utama adalah agenda kemandirian bangsa dengan pangan yang cukup, energi yang cukup, air bersih sebagai kebutuhan elementer bagi daya tahan sebuah bangsa. Rakyat kenyang, rakyat sehat dan rakyat pintar adalah hasil renungan mata hati Prabowo dalam perjalanan panjang kehidupannya. Sejak masih usia muda, beliau telah mencatat dan merekam sejarah, menghadapi sejarah dan menentukan masa depan sejarah bangsa Indonesia.

Baca Juga :  Paripurna DPR, Aleg Fraksi PKB Dukung Penggunaan Hak Angket

Komitmennya sangat kuat untuk mengangkat bangsa Indonesia dengan meniadakan patologi ekonomi, patologi sosial, patologi budaya dan berbagai patologi melalui program” Makan
Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih, Kampung Nelayan, Desa Sadar HAM, cek kesehatan gratis dan lainnya.

Prabowo juga memperkuat fondasi ekonomi bangsa dengan program hilirisasi, pembentukan Danantara, peningkatan investasi, swasembada, peningkatan rasio penerimaan pajak. Semua program bersumber dari cita-cita Prabowo dalam ASTACITA, harta untuk rakyat dan tahkta untuk rakyat.

Baca Juga :  Ribuan Warga Sumut Bogor Dukung Rena - Teddy di Pilkada Kota Bogor

Di tengah keberpihakan dan keberhasilan Pemerintah, kita sedang menyaksikan (sambil ketawa) sandiwara murahan para pengamat pembunuh kebenaran berimajinasi liar dan cenderung fantasi menggunakan pisau analisis logika mereka dengan variabel fallacy, memproduksi kebohongan, kebencian, iri, dengki, kejam dan jahat pada kebenaran, “mereka ramai-ramai membunuh kebenaran”.

Oleh karena itu wajar jika para pengamat merasa ilmunya tidak dipakai tetapi konsisten pada jalur fallacy, maka para pembunuh kebenaran dengan ekspresi mereka hanya dapat dikategorikan sebagai “onani intelektual”.

Pemimpin di negeri ini hadir dengan tulus dan penuh perasaan, peduli terhadap kaum marjinal dan orang-orang miskin. Pundi-pundi orang kaya yang tadinya tumbuh 10% per tahun, sekarang mulai terjaga keseimbangannya dengan pundi-pundi rakyat umum khususnya kelas menengah. Pengusaha juga tumbuh, orang miskin mulai berkurang, rangking IPM dunia bangsa ini mulai membaik, Indeks rasio gini mencapai 0,363 tertinggi selama 15 tahun terakhir artinya ada peningkatan daya beli masyarakat dan peningkatan keseimbangan distribusi kesejahteraan yang merata.