Natalius Pigai : Pengamat dan Fenomena Post Truth

Redaksi
Natalius Pigai : Pengamat dan Fenomena Post Truth
Dok. Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai.

Prestasi Prabowo luar biasa karena baru berjalan 1,6 tahun anggaran yang digunakan tidak sampai 4.000 Triliun APBN, namun kita melihat berbagai prestasi gemilang yang sedang diukir Prabowo Subianto.

Akhirnya juga saya mengukur kapasitas pembunuh kebenaran dengan hanya dilihat dari orasi-orasi verbal tanpa data, fakta dan informasi yang akurat. Narasi narasi kosong yang mendobrak citra seakan-akan pembela kebenaran dan pembela keadilan. Pertanyaannya sederhana, saat ini orang Papua berduka dalam kesedihan atas tragedi yg menimpa kaum bumi putra, namun saya tidak pernah mendengar kredo tentang elegi derita mereka.

Saya membaca alam bawah sadar (imajinasi) para pengamat dan oposisi, mereka berpandangan bahwa berkuasa itu enak, mumpung berkuasa, aji mumpung dan Itulah kekuasaan, dengan berkuasa secara leluasa bernafsu memanfaatkan kekuasaan untuk dirinya, sanak saudaranya, koleganya dan masa depan kariernya”.

Baca Juga :  Dedie - Jenal Resmi Mendaftar Sebagai Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor

Hal yang nyata terlihat dari oposisi yang mantan penguasa menggunakan sumber daya negara, sudah bukan rahasia bahwa LPDP dimanfaatkan anak-anak mantan penguasa dan orang kaya di negeri ini. Sementara putra- putri yang brilian dari anak-anak miskin dan pinggiran kesulitan mendapatkan akses biaya negara. Ada benarnya jika seorang tokoh asal Inggris Lord Acton menyatakan bahwa kekuasaan cederung korup dan mau melakukan korupsi secara mutlak (power tends to corrupt, and absolute power corupts absolutely). Karena itu kecenderungan pemimpin negeri ini berharap pada negara, pejabat dan sanak saudara berdagang pengaruh kekuasaan dan jabatan (trading in influences), pengamat berfikir dengan jabatan bisa mengambil kredit besar untuk menjadi kaya raya.

Tindakan-tindakan amoralitas ini telah berlangsung sejak jaman hukum hamurabi babilonia, korupsi, kolusi dan nepotisme . Tindakan “AMORALITAS ITULAH YANG MAU DIHENTIKAN OLEH PEMERINTAH SAAT INI”. Hei pengamat (pembunuh kebenaran) kami saat ini beda dengan cara pandang kalian.

Harus dikatakan, bahwa para pengamat kita masih anonim dalam politik sebagaimana disampaikan oleh pengamat politik berkebangsaan Australia Herber Feith, seperti kondisi pemilih tahun 55, dan saat ini juga masih sama: anonim. Mayoritas pengamat dan masyarakat masih stagnan dan belum melek politik sehingga timbul kelompok solidaritas nekat, solidaritas buta, militan dan cenderung fanatis.

Baca Juga :  Kunjungi Warga Bogor Selatan, Bacawalkot Kang Jaya Soroti Pemerataan Pembangunan

Apapun argumentasinya, negara ini telah berbaik hati pada kita semua, baik rakyat, penguasa dan pendukung. Hidup bersedekah dari negara seperti rakyat di negeri feodal berharap rezeki berberkah ratu pandito raja. Karena itu jangan pernah berpidato; mengutif kata-kata kepahlawanan John F Kenedy yaitu jangan bertanya apa yang diberikan oleh negara tetapi bertanya apa yang Engkau berikan kepada Negara.

Hal lain adalah fakta bahwa ada aktor yang mengendalikan para pengamat dengan remote, yang tentu memiliki disposisi politik. Saat yang sama para pengamat menganggap bohir-bohir politik dan sumber ekonomi mereka sebagai titisan dewa, kata-kata dan perbuatan tokoh-tokoh tersebut semua benar di hadapan pendukung fanatik ini. Bahkan kata-kata dan nasehat atau perintah mereka dianggap titah dewa, Divine Right of the King, seperti yang pernah dipraktekan oleh King Jhon di Inggris pada abad ke -15 masa monarki absolut. Pengamat saat ini tidak ingin hidup dengan keringat dan jeri payah tangannya sendiri.