“Karena meski ketinggian hilal 3 derajat, elongasinya belum sampai 6 derajat. Seperti di Medan elongasi hanya sekitar 5 derajat,” kata kepala KUA Rengel itu.
Oleh karena itu, kepastian penetapan 1 Syawal masih menunggu hasil sidang isbat yang akan diselenggarakan pemerintah pada 19 Maret.
Dalam sidang tersebut, pemerintah akan menentukan apakah penetapan awal Syawal menggunakan kriteria MABIMS secara penuh atau mempertimbangkan ketinggian hilal yang telah mencapai 3 derajat di sejumlah wilayah.
Apabila pemerintah memutuskan awal Syawal ditentukan hanya berdasarkan ketinggian hilal 3 derajat tanpa memperhitungkan syarat elongasi MABIMS, maka Idul Fitri berpotensi jatuh pada 20 Maret.
Jika skenario itu terjadi, maka perayaan Idul Fitri kemungkinan akan berlangsung bersamaan dengan Muhammadiyah yang sebelumnya telah menetapkan 1 Syawal pada tanggal tersebut.
Sementara itu, untuk wilayah Tuban, hasil perhitungan menunjukkan ketinggian hilal saat rukyatul hilal diperkirakan belum mencapai 3 derajat.
Karena itu, kepastian terlihat atau tidaknya hilal tetap menunggu hasil pengamatan langsung yang akan dilakukan pada 19 Maret mendatang. (DR)






