“Insyaallah besok sudah ada hasilnya (pemeriksaan laboratorium), dan kita akan diskusikan dengan BGN. Yang pasti, kita ingin anak-anak tetap senang dan tetap bahagia menerima langsung MBG ini tanpa ada ketakutan, tanpa ada ragu-ragu lagi,” ujar Dedie.
Ia menambahkan bahwa kondisi pasien saat ini mulai membaik setelah mendapatkan penanganan medis yang sesuai. Meski begitu, pemetaan sekolah tetap dilakukan guna memantau kemungkinan adanya laporan tambahan, khususnya terkait pasien rawat inap.
“Namun sejauh ini jumlahnya semakin menurun,” lanjutnya.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyebut bahwa gejala yang dialami siswa dalam kasus ini muncul secara lambat dibanding kejadian serupa di daerah lain.
Berdasarkan evaluasi, BGN menilai pentingnya peningkatan standar operasional, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga pendistribusian makanan agar tidak terlalu jauh dari dapur SPPG.
Dadan menekankan bahwa dapur SPPG yang menjadi sorotan saat ini merupakan salah satu model percontohan, dikelola oleh koki profesional yang berpengalaman dalam menyajikan makanan anak-anak di sekolah.
“Jadi fasilitas yang ada menurut kami sudah sesuai standar BGN. Bangunannya bagus, higienis, dan bersih,” ujarnya.
Ke depan, BGN akan memperkuat metode uji organoleptik sebagai bagian dari penilaian kualitas makanan, serta merencanakan penyegaran rutin setiap tiga bulan di seluruh SPPG. Pelatihan juga akan digelar secara berkala untuk meningkatkan mutu makanan dan ketepatan dalam pemilihan bahan pangan.
“Kami juga bekerja sama dengan BPOM, Dinkes, dan para profesional yang terlibat dalam tata boga food and beverage. Jadi itu langkah-langkah yang akan kami lakukan kepada para SPPG, dan kami meminta mereka untuk meningkatkan lagi kewaspadaan,” tutupnya. (DR)






