KOTA BOGOR – Reza Bhakti Nugraha, seorang mahasiswa Universitas Pakuan (Unpak) yang menjadi sorotan publik dan media sosial setelah pernyataannya yang dianggap kurang sopan kepada aparat kepolisian viral di media sosial.
Kejadian ini terjadi saat Reza terlibat dalam aksi demonstrasi di Jakarta untuk menolak revisi Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (UU Pilkada) 2024.
Reza menjelaskan bahwa perkataannya tersebut terjadi secara spontan, bukan dengan niat yang disengaja.
“Saya tidak berniat mengucapkan hal tersebut, namun suasana saat itu memengaruhi saya. Apalagi, banyak mahasiswa lain juga mendapatkan perlakuan serupa dari pihak kepolisian,” ungkapnya ketika ditemui wartawan pada Jumat (24/8) malam.
Menurut Reza, ucapannya terlontar karena emosi yang tidak terkendali akibat situasi di lapangan. Ia juga menyadari bahwa kata-katanya telah menyinggung beberapa pihak.
Akibat insiden ini, Reza mengaku menerima berbagai ancaman melalui media sosial dan pesan WhatsApp, yang memaksanya untuk menonaktifkan akun media sosialnya.
Beberapa ancaman tersebut, menurut Reza, bahkan datang dari oknum tertentu yang diduga memiliki hubungan dengan aparat.
Reza juga menyebutkan bahwa ia menerima pesan ancaman dari nomor tak dikenal yang menyatakan mengetahui alamat rumahnya serta berencana mendatanginya.
“Saya menduga ancaman ini datang dari oknum tertentu karena beberapa dari mereka menggunakan foto profil resmi,” tambahnya.
Menanggapi insiden ini, Wakil Rektor Universitas Pakuan, Dr. Andi Chairunnas, M.Kom., M.Pd., menyatakan bahwa masalah tersebut telah diselesaikan secara damai melalui musyawarah antara pihak kampus dan pihak yang merasa tersinggung.
“Permasalahan ini sudah diselesaikan dengan cara damai setelah Reza menyampaikan permohonan maaf secara lisan,” ujar Dr. Andi.
Ia juga menegaskan bahwa pihak universitas telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi Reza terkait ancaman yang diterimanya.
Dr. Andi menekankan bahwa demonstrasi adalah hak konstitusional mahasiswa, namun harus dilakukan dengan kooperatif dan tetap menjaga etika.
“Kami tidak pernah melarang mahasiswa untuk berdemo asalkan sesuai dengan aturan yang berlaku,” jelasnya.
Ke depan, Universitas Pakuan berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali dan para mahasiswa diingatkan untuk tetap menjaga emosi serta etika dalam menyuarakan aspirasi mereka.
“Semoga ini menjadi pelajaran bagi semua pihak dan kami akan terus mengedepankan dialog untuk menyelesaikan setiap permasalahan,” tutup Dr. Andi. (DR)






