Dengan bergabungnya pesawat tempur Rafale ke dalam jajaran TNI AU, pemerintah optimistis kemampuan Indonesia dalam menjaga kedaulatan wilayah udara akan semakin kuat.
Kehadiran alutsista modern ini dinilai sebagai langkah strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dalam memperkuat pertahanan nasional.
Sementara itu, Kemhan juga mengungkapkan bahwa pengadaan Rafale tahap kedua dijadwalkan tiba pada pertengahan tahun 2026. Meski demikian, jumlah pesawat yang akan diterima pada batch kedua tersebut masih belum dapat dipastikan.
Rafale merupakan pesawat tempur canggih generasi 4,5 yang menjadi andalan sejumlah negara anggota NATO.
Pesawat ini tergolong omnirole karena mampu menjalankan berbagai misi, mulai dari superioritas udara dan pertahanan udara, dukungan udara jarak dekat, serangan jarak jauh, pengintaian, hingga operasi serangan anti-kapal.
Selain itu, Rafale memiliki kompatibilitas dengan berbagai sistem persenjataan modern, termasuk rudal udara-ke-udara jarak jauh “Beyond Visual Range” (BVR) METEOR dan MICA.
Beragam persenjataan lainnya juga dapat dipasang pada pesawat tempur Rafale, seperti rudal stand-off jarak jauh SCALP, rudal anti-kapal AM39 EXOCET, bom berpemandu laser, bom konvensional tanpa pemandu, serta meriam internal NEXTER 30M791 kaliber 30 mm yang mampu memuntahkan hingga 2.500 peluru per menit. (DR)






