Pemerintah secara aktif memanfaatkan stok CBP sebagai instrumen intervensi pangan sekaligus stimulus ekonomi bagi masyarakat. Upaya ini dinilai berhasil menekan laju inflasi beras, terutama selama periode Ramadan.
“Jadi Alhamdulillah, bulan suci Ramadan, bukan harga beras menjadi penyumbang inflasi. Dan 10 sampai 20 tahun terakhir, biasanya nomor satu penyumbang inflasi adalah beras,” ungkap Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi beras bulanan hingga Februari 2026 berada di level 0,43 persen, relatif lebih rendah dibandingkan puncak inflasi dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagai perbandingan, inflasi beras tertinggi pada 2022 tercatat 2,30 persen pada Desember, kemudian melonjak hingga 5,61 persen pada September 2023. Sementara pada 2024 dan 2025 masing-masing mencapai 5,28 persen dan 1,35 persen.
Secara historis, sejak Juni 2024 inflasi beras bulanan tidak pernah melampaui angka 2 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa harga beras, baik di tingkat produsen maupun konsumen, semakin terkendali dalam kurun waktu hampir dua tahun terakhir. (DR)






