FaktaID.net – Pemerintah Swedia menyatakan dukungannya terhadap langkah Indonesia dalam mempercepat penanganan krisis iklim global melalui berbagai skema pendanaan dan kerja sama internasional.
Dukungan ini disampaikan dalam pertemuan bilateral antara Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Indonesia Hanif Faisol dengan Pemerintah Swedia di sela-sela Konferensi Perubahan Iklim COP30 di Brasil, Selasa (11/11).
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol menegaskan bahwa kegiatan COP30 tidak semata-mata membahas soal perdagangan karbon, namun lebih pada kepedulian terhadap krisis iklim yang tengah dihadapi dunia.
“Untuk itu Indonesia mengupayakan dengan memobilisasi pendanaan iklim dari berbagai sumber, baik melalui kemitraan bilateral dan multilateral. Carbon trade hanya salah satu sumber yang difasilitasi Pemerintah,” ungkap Hanif Faisol.
Ia menambahkan, penanganan krisis iklim tidak boleh hanya dilihat dari sisi perdagangan karbon semata.
“Ini tidak boleh dipandang hanya dari carbon tradenya saja tapi soal penanganan krisis iklim yang sedang dihadapi dunia saat ini,” tegasnya.
Indonesia, kata Hanif, telah melakukan Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan berbagai skema karbon baik yang bersifat compliance maupun sukarela. Pemanfaatan Carbon Pricing atau Nilai Ekonomi Karbon (NEK) menjadi salah satu strategi pendanaan yang bertujuan memberikan insentif bagi pelaku aksi mitigasi yang terverifikasi sesuai panduan Paris Agreement.
“Dan melalui forum iklim dunia seperti COP30, Indonesia berupaya memperkuat kepercayaan pasar global dengan membuka skema seller meet buyer agar pelaku pasar dapat saling terhubung secara langsung,” ujarnya.
