Pada bulan sebelumnya, Februari 2025, IPR tercatat sebesar 218,5 atau tumbuh 2,0 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan Januari 2025 yang hanya tumbuh 0,5 persen (yoy).
“Peningkatan IPR Februari terutama didorong oleh kinerja positif Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, serta Subkelompok Sandang,” tutur Ramdan.
Secara bulanan, penjualan eceran Februari tumbuh 3,3 persen (mtm), berbalik dari kontraksi 4,7 persen pada Januari 2025. Ramdan menyebut,
“Peningkatan tersebut ditopang oleh Subkelompok Sandang, Makanan, Minuman dan Tembakau, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, seiring meningkatnya permintaan menjelang Ramadan dan HBKN Idulfitri.”
Dari sisi harga, BI mencatat tekanan inflasi tiga bulan ke depan (Mei 2025) diprakirakan menurun, sedangkan tekanan inflasi enam bulan ke depan (Agustus 2025) diprediksi relatif stabil.
“Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Mei 2025 tercatat sebesar 148,3, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 159,6. Sementara itu, IEH untuk Agustus 2025 tercatat sebesar 155,5, hampir sama dengan periode sebelumnya yang sebesar 155,4,” pungkas Ramdan. (MS)
