Kisah haru juga datang dari Wawan, seorang pengamen badut, yang mengaku nyaris menangis saat melihat langsung kehadiran Presiden di lingkungannya.
“Terharu lah, hampir mau nangis dengarnya. Orang baru pertama kali ini datang ke sini, kayaknya gimana gitu senang hati,” ucap Wawan.
Sementara itu, Cono, seorang pemulung yang tinggal di kawasan tersebut, mengaku sempat berbincang langsung dengan Presiden. Ia menyebut momen itu terjadi secara spontan dan tak terduga.
“Ya kaget bu, spontanitas kan,” cerita Cono.
Kepada Presiden, Cono juga menyampaikan harapannya terkait keterbatasan tempat tinggal yang ia alami bersama warga lainnya.
“Kata Pak Prabowo, mau enggak dibikinin rumah susun? Saya bilang mau pak, karena saya nggak banyak tempat tinggal. Memang ini adanya,” katanya.
Kunjungan Presiden Prabowo ke Kelurahan Kramat bukan sekadar agenda biasa. Momen tersebut menjadi simbol kehadiran negara di tengah masyarakat, dengan mendengar langsung aspirasi warga serta merespons kebutuhan mereka.
Gang-gang sempit yang biasanya luput dari perhatian, sore itu berubah menjadi ruang penuh harapan—tempat warga merasa diperhatikan, didengar, dan dihargai oleh pemimpinnya. (DR)






