Dalam pertemuan bilateral tersebut, Datuk Seri Mohammad Bin Sabu menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat yang diterimanya, serta kekaguman terhadap kemajuan pertanian Indonesia, khususnya dalam peningkatan produksi padi dan penerapan sistem pertanian modern.
“Saya merasa terhormat dan berterima kasih atas sambutan Menteri Pertanian Indonesia. Saya kagum dengan kemajuan sektor pertanian Indonesia, khususnya peningkatan produksi padi yang signifikan hingga mencukupi kebutuhan nasional dan berpotensi ekspor,” ujar Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan, Datuk Seri Mohammad Bin Sabu.
Ia mengakui bahwa produksi beras di Malaysia masih tertinggal, dengan tingkat tanam yang rendah, sehingga negara tersebut sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan. Saat ini, Malaysia pun tengah menghadapi kenaikan harga beras akibat minimnya pasokan domestik.
“Karena Indonesia dan Malaysia adalah dua negara jiran yang sangat dekat, seperti abang dan adik, maka kami merasa perlu belajar dari Indonesia. Ada banyak kelebihan yang kami lihat di sini dan itu perlu kami pelajari,” ujarnya.
Lebih lanjut, Datuk Seri Mohammad Bin Sabu menyoroti pentingnya kolaborasi dalam teknologi pertanian modern yang telah terbukti berhasil di Indonesia.
“Kami ingin menjalin pertukaran teknologi atau pembinaan bersama agar dapat mengakses teknologi pertanian baru, terutama untuk padi, ikan, dan jagung. Teknologi yang kami lihat di Indonesia ini sangat maju, hasil panennya mencapai 12 hingga 13 ton per hektar, dengan rata-rata nasional mencapai 7 ton. Ini pencapaian besar yang sangat menginspirasi kami,” tegasnya.
Malaysia melalui lembaga riset pertanian nasionalnya, MARDI, juga siap memperkuat kerja sama dengan Kementerian Pertanian RI dalam bidang riset, inovasi, serta pengembangan kapasitas SDM.
“Lembaga riset kami, MARDI, akan terus berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian Indonesia untuk bertukar teknologi dan mendukung modernisasi pertanian. Kita di ASEAN perlu memperkuat solidaritas di berbagai bidang, karena ke depan kita bisa menghadapi tantangan bersama seperti ketidakpastian tarif global dari negara-negara besar,” tutupnya. (*)






