Ia mengungkapkan, panen tebu di Lanud Abdulrachman Saleh dilakukan di lahan seluas 800,5 hektare dengan perkiraan produksi mencapai 72.045 ton.
“Luas siap panen mencapai 800,5 hektare dengan estimasi hasil 72.045 ton dengan nilai diterima pabrik rata-rata Rp720 ribu per ton. Hilirisasi tebu turut menghasilkan molase, bioetanol, industri ataupun farmasi, pupuk organik, dan produk turunan lainnya yang meningkatkan nilai bagi perekonomian nasional,” lanjutnya.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Panen Raya TNI Terintegrasi yang dilaksanakan serentak di 43 titik di seluruh Indonesia. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
“Saya ucapkan selamat atas terselenggaranya Panen Raya TNI terintegrasi yang dilaksanakan serentak di 43 titik di seluruh Indonesia. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan Kementerian Pertanian, tetapi merupakan gerakan nasional yang melibatkan seluruh kekuatan bangsa,” ujar Presiden.
Presiden juga menegaskan bahwa keterlibatan TNI dalam sektor pangan merupakan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
“Ini menunjukkan bahwa TNI dan Polri tidak hanya merupakan penjaga pertahanan dan keamanan negara, tapi TNI dan Polri adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari rakyat Indonesia. TNI dan Polri adalah anak kandung rakyat. TNI dan Polri harus selalu bersama rakyat di tengah-tengah rakyat. Kesulitan rakyat adalah kesulitan TNI dan Polri,” tegas Presiden. (DR)




