Menanggapi hal itu, Teheran mengumumkan rencana pembangunan fasilitas pengayaan uranium baru dengan teknologi sentrifugal yang lebih mutakhir, keputusan yang langsung menimbulkan kekhawatiran global.
Israel secara konsisten menolak pengembangan senjata nuklir oleh Iran. Meski Iran berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak berniat memproduksi bom nuklir, berbagai pernyataan pejabatnya kerap dianggap sebagai indikasi kesiapan jika sewaktu-waktu diperlukan.
Perdana Menteri Netanyahu dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran akan terus berlanjut selama masih dianggap sebagai ancaman.
Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan tidak ikut terlibat dalam operasi tersebut. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan,
“Israel bertindak sepihak demi mempertahankan diri.” Ia juga memperingatkan Iran untuk tidak melakukan serangan balasan terhadap pasukan maupun kepentingan AS di kawasan. lapor AP dikutip hari ini.
Ledakan di Teheran membuat warga terbangun dalam kepanikan. Asap pekat terlihat membumbung tinggi dari kawasan Chitgar di barat kota.
Meski kawasan tersebut bukan lokasi fasilitas nuklir, efek dari serangan terasa cukup luas. Harga minyak dunia pun melonjak hampir 5% usai kabar serangan menyebar.
Seorang sumber militer dari Israel menyatakan bahwa target utama serangan adalah instalasi militer dan nuklir Iran, meski tidak memberikan rincian pasti mengenai lokasi yang dimaksud.
Operasi ini disebut sebagai salah satu yang paling terstruktur dan besar dalam beberapa tahun terakhir.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa negaranya berada di balik serangan ini. Ia memperingatkan kemungkinan besar Iran akan melakukan pembalasan, baik dengan serangan rudal maupun drone. (DR)






