FaktaID.net – Perhatian global tertuju pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjelang pemilihan Sekretaris Jenderal (Sekjen) ke-10 yang akan mulai menjabat 1 Januari 2027. Proses ini dinilai krusial karena akan menentukan arah diplomasi global, respons krisis internasional, dan masa depan sistem multilateral.
Masa jabatan Sekjen saat ini, António Guterres, berakhir pada 31 Desember 2026. Sekjen baru diharapkan langsung efektif bekerja pada awal 2027.
Sebagai pejabat administratif tertinggi sekaligus diplomat utama dunia, Sekjen berperan memimpin Sekretariat PBB, mengelola operasi global, memediasi konflik, serta membawa isu penting ke Dewan Keamanan.
Proses pemilihan dimulai sejak November 2025 dengan pengajuan kandidat oleh negara anggota. Tahap dialog informal dijadwalkan pada 21–22 April 2026, diikuti pembahasan tertutup Dewan Keamanan pada Juli 2026, sebelum pengangkatan resmi oleh Majelis Umum di akhir tahun.
Empat kandidat yang telah masuk bursa yakni Michelle Bachelet (Chile), Rafael Grossi (Argentina), Rebeca Grynspan (Kosta Rika), dan Macky Sall (Senegal). Persaingan diprediksi ketat karena kandidat harus meraih dukungan mayoritas Dewan Keamanan tanpa veto dari lima anggota tetap: Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, dan Prancis.
Isu representasi gender juga mengemuka, mengingat belum pernah ada perempuan yang menjabat Sekjen PBB. Nama Michelle Bachelet dan Rebeca Grynspan menjadi sorotan dalam konteks ini.
Namun, dinamika politik global, termasuk konflik di Gaza, Ukraina, dan isu Iran, diperkirakan akan mempengaruhi proses konsensus.
Sekjen terpilih nantinya akan melanjutkan jejak tokoh dunia seperti Kofi Annan, Ban Ki-moon, dan António Guterres. Pemilihan ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan momentum penting bagi arah peran PBB di masa depan. (DR)




