FaktaID.net – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menilai tuntutan Amerika Serikat yang terus berubah dan saling bertentangan menjadi hambatan utama dalam perundingan antara Teheran dan Washington.
“Dalam kondisi di mana pihak lain terus-menerus mengubah pandangannya, mengajukan tuntutan baru atau yang kontradiktif, serta menyampaikan pesan media yang berbeda dan saling bertentangan, wajar jika situasi ini menyebabkan proses negosiasi menjadi berkepanjangan,” kata Baqaei dalam konferensi pers di Teheran, dikutip dari kantor berita Iran IRNA, Senin (1/6).
Ia menegaskan bahwa Iran sejak awal menyadari perundingan berlangsung dalam suasana ketidakpercayaan. Menurutnya, diplomasi tidak dibangun atas dasar rasa saling percaya.
“Diplomasi bukanlah pengganti kekuatan. Negosiasi atau diplomasi itu sendiri bukanlah tanda atau produk dari rasa saling percaya di antara pihak-pihak yang bernegosiasi,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Baqaei juga mengecam Israel yang disebutnya sebagai “ancaman terbesar bagi perdamaian dan keamanan internasional” di tengah berlanjutnya konflik di Gaza dan Lebanon.
Ia menilai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanan PBB gagal bertindak terhadap pelanggaran gencatan senjata yang terjadi.




