Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Bank Indonesia telah berkontribusi secara aktif melalui kebijakan strategis, seperti mendorong pembiayaan hijau lewat instrumen makroprudensial, mengembangkan inklusi keuangan digital untuk petani, dan menerapkan sistem pembayaran QRIS bebas biaya bagi UMKM.
Selain itu, BI juga mendorong pembiayaan berbasis klaster dengan kolaborasi bersama lembaga strategis, seperti yang diterapkan di Desa Penglipuran, Bali — sebuah contoh sukses integrasi pertanian sirkular dan pariwisata dengan dukungan ekosistem digital inklusif.
Sementara itu, Chairman Agricultural Development Bank of China (ADBC) sekaligus Chairman APRACA, Mr. Qian Wenhui, menyoroti tiga makna strategis dari ekonomi sirkular di sektor pertanian.
Pertama, pendekatan ini mampu mengatasi keterbatasan sumber daya dengan sistem tertutup yang mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai tambah.
Kedua, ekonomi sirkular memperkuat ketahanan pangan melalui praktik pertanian berkelanjutan seperti penggunaan pestisida alami dan tumpangsari.
Ketiga, model ini turut membantu pencapaian target iklim, seperti netralitas karbon dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Forum APRACA sendiri merupakan ajang internasional yang terdiri dari 95 lembaga di 24 negara kawasan Asia-Pasifik, yang berfokus pada kerja sama dan pertukaran pengetahuan dalam pembiayaan pertanian dan pedesaan. Turut hadir dalam forum ini perwakilan bank sentral dari Bangladesh, Kamboja, dan Nepal. (DR)




