Sementara itu, ULN swasta pada April 2026 tercatat sebesar 193,2 miliar dolar AS atau mengalami kontraksi 0,7 persen (yoy), meski lebih baik dibandingkan kontraksi Maret 2026 yang mencapai 1,4 persen (yoy).
Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh ULN kelompok lembaga keuangan yang mengalami kontraksi 5,0 persen (yoy), membaik dibandingkan kontraksi 6,3 persen pada bulan sebelumnya.
ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian dengan pangsa mencapai 79,6 persen dari total ULN swasta. Utang jangka panjang masih mendominasi dengan porsi 75,8 persen.
BI menegaskan struktur ULN Indonesia tetap sehat. Hal itu tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang stabil di level 29,6 persen pada April 2026, serta dominasi utang jangka panjang yang mencapai 84,5 persen dari total ULN.
“Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” tulis BI.
BI menambahkan, berbagai upaya tersebut dilakukan dengan tetap meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian nasional. (DR)




