Sementara itu, Ochiai menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan observasi di bidang kelapa untuk bahan baku SAF selama lima tahun terakhir. Saat ini, istilah kelapa rejected telah berhasil diregistrasikan dan didefinisikan secara internasional sebagai kelapa non-standar.
Pelatihan ToT ini menjadi upaya untuk memastikan bahwa kelapa NS yang dipasok merupakan hasil penyortiran yang baik dan terukur. Kegiatan tersebut disebut sebagai pelatihan pertama di dunia terkait sortir kelapa NS dan mendapat apresiasi dari Filipina yang tertarik mengadopsi sistem serupa.
SAF Dinilai Jadi Peluang Besar Industri Kelapa Dunia

Direktur Jenderal ICC, Jelfina C. Alouw, menyampaikan bahwa SAF merupakan proyek strategis yang layak dipromosikan secara global dan didukung masuk ke dalam positive list ICAO.
Filipina sebagai salah satu produsen kelapa terbesar dunia juga disebut mulai tertarik mengembangkan SAF dengan menyiapkan lahan khusus untuk mendukung industri tersebut.
Industri kelapa dunia dinilai memiliki potensi besar karena produksi global mencapai sekitar 14 miliar butir per tahun, dengan sekitar 30–35 persen di antaranya berpotensi masuk kategori kelapa NS.
ICC juga membuka akses bagi para stakeholder yang membutuhkan informasi maupun dukungan pengembangan ekosistem industri kelapa dunia. Setelah sambutan selesai, kegiatan Training of Trainers Manual Sortir Non-Standard Coconuts resmi dibuka.
Universitas Sam Ratulangi Siap Berkontribusi
Sebelum pelatihan dimulai, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi, Dedie Tooy, menyampaikan bahwa Menteri Pertanian RI sebelumnya telah melakukan kunjungan ke Sulawesi Utara untuk meninjau potensi sektor pertanian, termasuk komoditas kelapa.
Sulawesi Utara disebut menjadi salah satu daerah prioritas untuk peningkatan produksi kelapa nasional ke depan. Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi juga menyatakan kesiapan untuk mendukung berbagai program pengembangan industri kelapa di Indonesia. (DR)




