Dalam pernyataan melalui akun Instagram pribadinya pada Jumat (4/4), Dedi menyebut bahwa para sopir mengeluhkan adanya pemotongan sebesar Rp 200.000 dari uang kompensasi yang seharusnya mereka terima.
Menurutnya, jumlah tersebut sangat berarti bagi para sopir dan cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarga selama beberapa hari.
“Sopir angkot di Puncak, Bogor merasa dipotong uangnya Rp 200.000. Uang itu berarti bagi mereka dan bisa mencukupi kehidupan keluarga selama empat hari,” ujarnya.
Menurut Dedi, uang kompensasi yang sempat dipotong itu akhirnya dikembalikan kepada para sopir setelah kasus tersebut viral di media sosial.
“Para sopir menyampaikan bahwa uangnya dipotong. Namun, kata oknum tersebut, tidak dipotong karena diberikan secara sukarela. Karena jadi ramai, akhirnya dikembalikan. Alhamdulillah sudah dikembalikan,” jelasnya.
Dedi juga menyoroti bahwa aksi semacam ini tidak hanya bisa dilakukan oleh individu, tetapi juga oleh kelompok atau aparatur sipil negara (ASN) yang menyalahgunakan kewenangan.




