“Latihan ini membangun interoperabilitas dan ketangguhan. Latihan ini memastikan bahwa sebagai sebuah tim bangsa-bangsa, kita dapat menghadapi tantangan regional dan menjaga Indo-Pasifik tetap bebas dan terbuka,” kata Paparo.
Sementara itu, Kapuspen TNI Mayjen TNI Kristomei Sianturi menjelaskan kepada media bahwa selain memperkuat hubungan pertahanan, SGS 2025 juga menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan teknologi militer antarnegara peserta.
Hal ini, kata dia, sejalan dengan visi TNI untuk mewujudkan kekuatan pertahanan yang profesional, modern, dan adaptif terhadap dinamika global.
Kristomei menegaskan, Latihan Super Garuda Shield yang awalnya hanya melibatkan TNI AD dan Angkatan Darat AS, kini berkembang menjadi latihan multinasional berskala besar.
“Kehadiran puluhan negara peserta dan pengamat mencerminkan kepercayaan internasional terhadap Indonesia sebagai mitra strategis sekaligus pemimpin regional dalam menjaga stabilitas Indo-Pasifik,” ujarnya.
Sebagai informasi, Latihan Super Garuda Shield 2025 digelar di sejumlah lokasi strategis, antara lain Jakarta, Bogor, Baturaja (Sumatera Selatan), dan Dabo Singkep (Kepulauan Riau).
Kegiatan ini meliputi latihan tempur darat, laut, udara, operasi gabungan, hingga misi kemanusiaan dan bantuan bencana, yang dirancang untuk merefleksikan tantangan nyata di kawasan Indo-Pasifik. (DR)




