Dukung Industri Energi Terbaruka, IJBNet Gelar Pelatihan Penyortiran Kelapa untuk SAF

Redaksi
Dukung Industri Energi Terbaruka, IJBNet Gelar Pelatihan Penyortiran Kelapa untuk SAF
Dok. Dukung Industri Energi Terbaruka, IJBNet Gelar Pelatihan Penyortiran Kelapa untuk SAF/Foto: Ist)

FaktaID.net – Indonesia Japan Business Network menggelar kegiatan Training of Trainers (ToT) Manual Sortir Non-Standard Coconuts sebagai bagian dari upaya mendukung hilirisasi industri kelapa untuk bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF). Kegiatan ini berlangsung di area pabrik PT Sasa Inti, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

Pelatihan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara IJBNet, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Universitas Sam Ratulangi, dan International Coconut Community. Kegiatan dilaksanakan selama empat hari, pada 27–30 April 2026, dan diikuti oleh 25 peserta dari sejumlah perusahaan pengolah kelapa, seperti PT Green Power Palembang, PT A3, serta PT Sasa Inti selaku tuan rumah.

Selain peserta dari industri, Universitas Sam Ratulangi turut mengirimkan empat peserta sebagai observer dari kalangan akademisi.

Baca Juga :  Rapat Kerja Dengan Komisi III, Kapolri Paparkan Kebocoran Anggaran

Cetak Trainer Penyortir Kelapa Non-Standar

Program ToT ini bertujuan mencetak trainer yang nantinya akan melatih tenaga penyortir kelapa non-standar (NS) di berbagai daerah di Indonesia. Kelapa NS kini telah diakui secara internasional sebagai bahan baku minyak kelapa mentah (Crude Coconut Oil atau CCO) untuk produksi SAF.

SAF merupakan bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang saat ini tengah dikembangkan secara masif di berbagai negara dan ditargetkan mulai digunakan secara luas oleh maskapai penerbangan internasional pada tahun 2030.

Sebagai negara penghasil kelapa terbesar kedua di dunia, Indonesia dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan industri SAF berbasis kelapa. Salah satunya melalui pembangunan pabrik CCO berbasis kelapa NS di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, yang diinisiasi IJBNet sejak enam tahun lalu.

Baca Juga :  Samakan Persepsi Penanganan Penyalahgunaan Narkotika, BNN Gelar FGD Bersama Kementerian dan Lembaga Terkait

Melalui investasi dari Jepang, pembangunan pabrik tersebut saat ini tengah berlangsung dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Saat pabrik mulai beroperasi, kebutuhan pasokan kelapa NS dalam jumlah besar dan stabil akan meningkat sehingga diperlukan tenaga penyortir yang terlatih dan tersertifikasi.

Kelapa NS Masuk Positive List ICAO-CORSIA

Ketua Umum IJBNet, Dr. Suyoto Rais, menjelaskan bahwa proses hilirisasi kelapa sebagai bahan baku SAF telah melalui perjalanan panjang hingga akhirnya kelapa NS masuk dalam positive list ICAO-CORSIA.

Keberhasilan tersebut didukung berbagai pihak, mulai dari pemerintah seperti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan BRIN hingga sektor swasta. Industri kelapa nasional juga dinilai memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam memasok CCO berbasis kelapa NS di masa depan.