FaktaID.net – Proses identifikasi korban robohnya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, terus dilakukan secara intensif oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur.
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, menyampaikan perkembangan terbaru dalam konferensi pers di Posko DVI RS Bhayangkara Surabaya, pada Sabtu malam (11/10).
“Update dari proses identifikasi kantong jenazah hari ini, Tim DVI Polda Jatim berhasil mengenali 1 jenazah Santri Ponpes Al Khoziny,” kata Abast.
Ia menjelaskan, tim DVI dibentuk dengan melibatkan berbagai pihak dan tenaga ahli yang bekerja selama 24 jam tanpa henti. “Bahwa tim DVI ini dibentuk tentunya bersama-sama dengan instansi terkait yang ada,” ujar Kombes Pol Abast.
Abast menegaskan, tim DVI bekerja penuh untuk memastikan seluruh jenazah korban dapat teridentifikasi secara tepat dan ilmiah.
Sementara itu, Kabiddokkes Polda Jatim Kombes Pol Dr. dr. Mohammad Khusnan Marzuki mengungkapkan, satu kantong jenazah yang berhasil diidentifikasi adalah kantong jenazah nomor Post Mortem RSB B-059.
“Jenazah teridentifikasi melalui DNA dan medis gigi, cocok dengan nomor Antemortem 056 sebagai Muhammad Ridwan Sahari, laki-laki, 14 tahun, alamat Bendul Merisi Jaya Timur No.17, RT 002 RW 012, Bendul Merisi, Wonocolo, Kota Surabaya,” jelas Khusnan.
Dengan hasil terbaru ini, hingga saat ini tim gabungan telah berhasil mengidentifikasi 51 korban dari total 67 kantong jenazah yang diterima.
Khusnan menegaskan seluruh proses identifikasi dilakukan dengan teliti dan ilmiah agar hasilnya akurat. “Untuk supaya identifikasi ini betul-betul tidak terbantahkan atau 99,99%, sehingga kami lakukan dengan tes DNA dan rekonsiliasi ante mortem dan post mortem,” katanya.
Selain uji DNA, metode medis gigi juga digunakan untuk memperkuat hasil identifikasi. Kombes Pol Khusnan meminta keluarga korban agar tetap sabar menunggu hasil, karena tim terus berupaya maksimal.
Terkait waktu penyelesaian, ia menjelaskan bahwa setiap kasus memiliki karakteristik berbeda. “Kalau dulu bisa sampai dua bulan. Jadi saya berharap bisa cepat. Kami sering kontak dengan Pusdokkes juga untuk betul-betul menjaga ketelitian dan kecepatan,” ujarnya.
Dari data terbaru, terdapat 63 laporan kehilangan antemortem, dengan 51 korban telah teridentifikasi. “Jadi kantong jenazah yang sudah teridentifikasi 54 dengan identitas korban sebanyak 51,” pungkas Khusnan.
Dengan kerja keras Tim DVI Polda Jatim bersama seluruh unsur terkait, diharapkan seluruh proses identifikasi dapat segera rampung, sehingga para keluarga korban memperoleh kepastian dan jenazah bisa segera dimakamkan.
Diketahui, Tim DVI Polda Jatim melibatkan berbagai ahli, termasuk dari Persatuan Dokter Forensik Indonesia (PDFI), Rumah Sakit Bhayangkara se-Jawa Timur, Pusdokkes Polri, serta unsur pemerintah daerah yang turut mendukung operasi identifikasi tersebut. (DR)




