Yusuf juga menyesalkan aksi perusakan fasilitas umum, termasuk pembakaran sekolah dan ambulans. Di Korowai, warga bahkan disebut harus bernegosiasi dan memberikan uang agar ambulans tidak dibakar oleh kelompok tersebut.
Terkait pengejaran pelaku di wilayah Korowai, Satgas ODC menghadapi tantangan berupa kondisi geografis yang berat. Yusuf menjelaskan bahwa luas wilayah Boven Digoel setara dengan satu provinsi Jawa Tengah, sementara jumlah personel yang bertugas terbatas.
“Satgas sendiri telah mengidentifikasikan pelaku, mereka dari kelompok yang berjumlah sekitar 20 orang di Korowai, Polisi telah mengidentifikasi dua orang pelaku utama,” ungkapnya.
Dari 23 kasus yang terjadi sejak Januari 2026 di Yahukimo, Yusuf menyebut Satgas ODC telah melakukan sejumlah penindakan. “Satgas ODC berhasil menangkap 4 orang. Dua di antaranya (inisial GW dan satu lainnya) dipastikan terlibat dalam penembakan anggota Brimob pada November 2022 dan pembakaran ruko pada Februari kemarin” katanya.
Ia menambahkan bahwa kelompok tersebut tidak berada dalam satu komando terpusat. “Berdasarkan data intelijen, kelompok-kelompok ini tidak berada dalam satu markas. Ada beberapa kelompok seperti Kelompok Sisi, Semut Merah, hingga Kelompok Kanibal yang tersebar di wilayah hutan,” tambahnya.
Ke depan, Polri bersama TNI akan meningkatkan pengamanan di bandara-bandara terpencil yang memiliki keterbatasan fasilitas.
“KKB ini tujuannya hanya satu: eksistensi. Tapi cara yang mereka lakukan dengan menghancurkan fasilitas kesehatan dan pendidikan justru membodohi dan membuat daerah mereka sendiri terpuruk. Kami akan terus melakukan pengejaran dan langkah preventif berlapis,” tutupnya. (DR).




