Selain kasus tersebut, Amran juga mengungkap proyek lain senilai Rp 2 miliar yang melibatkan ASN eselon III. Sama seperti sebelumnya, oknum itu sudah diberhentikan dan kini dalam proses hukum.
Tak hanya fokus di internal, Amran juga menyoroti dugaan manipulasi data beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Ia menilai ada kejanggalan dalam distribusi beras yang tercatat dalam lima tahun terakhir.
“Biasanya volume beras masuk-keluar 1.000-3.500 ton per hari, tetapi ada satu hari yang tembus 11.000 ton, tepat saat BPS mau umumkan data,” beber Amran.
Temuan lainnya adalah data stok beras yang diduga dimanipulasi. Dalam laporan disebutkan stok hanya 30.000 ton, namun realitasnya masih ada 46.000 ton dan seharusnya 50.000 ton.
Upaya Amran dalam membersihkan Kementan dari praktik mafia dan korupsi mulai menunjukkan hasil. Nilai reformasi birokrasi di Kementan naik dari 79 menjadi 85, sementara survei penilaian integritas (SPI) KPK meningkat dari 66,79 menjadi 74,46. (DR)




