Pigai juga mengkritik kegagalan mainstreaming HAM di seluruh dunia. Menurutnya, kegagalan tersebut terjadi karena lembaga independen seperti Komnas HAM gagal mengawal kebijakan pembangunan HAM pemerintah, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan.
“Mengapa mainstreaming HAM di seluruh dunia gagal? Karena lembaga independen negara seperti Komnas HAM lebih fokus pada kasus-kasus SIPOL yang jumlahnya kecil secara kuantitatif, sementara kasus EKOSOB yang menyangkut hajat hidup orang banyak justru terabaikan,” kata Pigai.
Pigai juga mempertanyakan mengapa Komnas HAM jarang menyoroti persoalan anak-anak yang tidak makan, tidak sehat, dan tidak mendapatkan pendidikan yang layak. “Mengapa tidak pernah bicara tentang anak-anak yang tidak makan, tidak sehat, dan tidak pintar?” tanyanya. (DR)






