Soroti Vonis Tom Lembong, dr. Richard Lee Pertanyakan Logika Hukum Hakim

Redaksi
Soroti Vonis Tom Lembong, dr. Richard Lee Pertanyakan Logika Hukum Hakim
Dok. Akun Instagram dr. Richard Lee.

FaktaID.net – Putusan vonis 4 tahun 6 bulan penjara terhadap mantan Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong alias Tom Lembong dalam kasus korupsi impor gula menuai sorotan dari berbagai kalangan. Salah satu komentar tajam datang dari dokter sekaligus influencer ternama, dr. Richard Lee.

Dalam pernyataannya yang disampaikan melalui media sosial, dr. Richard Lee mengaku bukan bagian dari dunia politik dan tidak memiliki keterikatan dengan Tom Lembong.

“Saya bukan politisi, dan sejujurnya saya pun tidak tertarik dengan politik. Saya juga bukan fans @tomlembong,” ungkapnya.

Baca Juga :  Usulan Kepala Daerah Dipilih DPRD, Ketum ICMI: Pilkada di Indonesia Mahal dan Transaksional

Meski demikian, ia merasa resah dengan keputusan pengadilan yang menjatuhkan hukuman kepada Tom Lembong atas dasar kebijakan publik yang tidak terbukti menguntungkan dirinya secara pribadi.

“Tapi keputusan hakim kali ini benar-benar membuat saya gerah,” lanjutnya.

Ia mempertanyakan dasar vonis tersebut karena tidak ada aliran dana yang masuk ke rekening pribadi terdakwa.

Baca Juga :  Hasil Survei Internal Tim, Farhat Abbas dan Dedie A Rachim Bersaing Tipis

“Bagaimana mungkin seseorang dihukum karena kebijakan yang dianggap merugikan atau menguntungkan pihak tertentu—padahal tidak ada aliran dana sepeser pun ke rekening pribadinya?”

Lebih lanjut, dr. Richard menilai bahwa setiap kebijakan publik selalu memiliki konsekuensi yang berbeda bagi tiap pihak, dan hal ini semestinya tidak dijadikan dasar kriminalisasi.

“Setahu saya, setiap kebijakan publik pasti berpotensi menimbulkan dampak pada berbagai pihak—ada yang diuntungkan, ada yang dirugikan. Kalau logika seperti ini dibiarkan, siapa lagi yang berani ambil keputusan penting untuk bangsa ini ke depan?”

Baca Juga :  Deklarasi Dukungan Untuk Rudy Susmanto Calon Bupati Bogor Bermunculan

Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap potensi dampak psikologis dan moral yang bisa dirasakan oleh para pembuat kebijakan publik lainnya.

“Kalau seorang Thomas Lembong saja bisa diperlakukan seperti ini, maka pesan yang tersirat jelas: berpikir jujur dan berani mengambil risiko untuk publik bisa membuatmu masuk penjara, ironis.” (DR)