Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia Andreas Bjelland Eriksen menyampaikan keyakinannya terhadap kesiapan Indonesia menjadi pemimpin perdagangan karbon global yang berintegritas tinggi.
“Bagi Norwegia, keberhasilan pelaksanaan program ini baru merupakan awal. Kami yakin langkah bersama ini akan membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih luas di bidang teknologi dan investasi hijau. Indonesia telah membuktikan kesiapan dan kapasitas politiknya untuk memimpin inisiatif karbon berintegritas tinggi—sebuah sinyal kuat bagi para investor global dan pemerintah di seluruh dunia,” jelas Andreas Bjelland Eriksen.
Kolaborasi ini semakin menguatkan posisi Indonesia di forum COP30 sebagai negara yang menunjukkan kepemimpinan nyata dalam transisi energi dan target Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, menegaskan kesiapan PLN mendukung visi Presiden Prabowo dalam mempercepat transisi energi melalui RUPTL 2025–2034.
“Dalam sepuluh tahun ke depan, Indonesia akan menambah kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt, dan sekitar 76 persen di antaranya berasal dari energi terbarukan dan teknologi penyimpanan energi,” ujar Darmawan.
Ia menambahkan bahwa RUPTL terbaru menjadi strategi utama PLN dalam mendorong transisi energi bersih, memperluas elektrifikasi di wilayah 3T, memperkuat ketahanan energi, serta membuka peluang lapangan kerja hijau.
“Dengan mengedepankan energi terbarukan, PLN berkomitmen membangun sistem ketenagalistrikan yang lebih bersih, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, kami yakin target ambisius transisi energi Indonesia dapat tercapai tepat waktu,” tutup Darmawan.
Kerja sama Indonesia–Norwegia melalui Framework Agreement antara PLN dan GGGI ini menandai dimulainya perdagangan karbon internasional berbasis teknologi dari Indonesia. Langkah tersebut memperkuat peran Indonesia sebagai penggerak utama pasar karbon berintegritas tinggi dan menegaskan komitmen KLH/BPLH dalam mengawal implementasi Paris Agreement menuju ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan. (*)






