Zona Merah, yang merupakan area paling berisiko, dikoordinasikan oleh Satgas Alfa Bravo Moskona 2025 dengan 274 personel. Sementara itu, 150 personel lainnya tergabung dalam satuan tugas pendukung yang terdiri atas Satgas Intelijen, Satgas SAR, Satgas Tindak, Satgas Humas, dan Satgas Banops.
Beragam metode telah diterapkan selama operasi pencarian, mulai dari penyisiran darat dan sungai, pemeriksaan rintangan alami seperti batu dan tumpukan material, hingga pemantauan udara menggunakan drone dan penggalian informasi dari masyarakat sekitar.
Namun, medan yang sulit dan kondisi ekstrem menjadi tantangan utama. Cuaca buruk memicu luapan sungai, akses komunikasi sangat terbatas dan hanya mengandalkan jaringan satelit, serta risiko dari binatang buas dan serangga liar turut menghambat proses pencarian.
“Walau belum menemukan hasil yang diharapkan, seluruh upaya kami dilakukan dengan penuh komitmen, kehati-hatian, dan semangat kemanusiaan. Kami tetap membuka ruang untuk informasi baru yang bisa ditindaklanjuti,” ujar Irjen Pol Johnny Isir.
Kapolda juga mengimbau masyarakat agar bijak dalam menyikapi dan menyebarkan informasi di media sosial serta mendukung langkah-langkah Polri yang mengedepankan pendekatan humanis, profesional, dan bertanggung jawab.
Konferensi pers turut dihadiri oleh berbagai pihak penting, termasuk Bupati Teluk Bintuni Yohanis Manibuy, Kepala Kantor SAR Papua Barat Yefri Sabaruddin, perwakilan Komnas HAM Papua Barat Frits Ramanday, Tim Inafis Mabes Polri, jajaran pejabat utama Polda Papua Barat, serta keluarga dari IPTU Tomi Samuel Marbun. (MS)






